4 Hal Ini Jadi Rahasia Pebisnis Sukses dalam Bernegosiasi!

Negosiasi bukanlah soal menang-menangan!

 

Oleh: Redaksi

Negosiasi juga bukan soal mengalah dari kawan. Agar negosiasi bisa menghasilkan hubungan jangka panjang bagi kedua belah pihak maka hasilnya pun harus memuaskan kedua belah pihak. Dalam bahasa yang lebih keren, negosiasi harus win-win. Anda win, pihak lain juga win. Agar lebih memahami filosofi negosiasi yang win-win, kita mungkin perlu memahami dua jenis negosiasi lainnya. Ada jenis negosiasi yaitu gaya keras (hard style) dan gaya lunak (soft style). Berikut adalah penjelasannya:

1. Gaya negosiasi keras yang tegas dan lugas

Seorang negosiator bergaya keras mungkin akan mendapatkan apa yang menjadi keinginannya dalam negosiasi. Namun untuk itu ia akan mengorbankan hubungan jangka panjang dengan rekan negosiasi. Dalam jangka pendek Anda menang, namun dalam jangka panjang Anda akan kehilangan kepercayaan dari rekan.

pexels.com

Sederhananya, gaya keras adalah ketika kita mendapatkan keuntungan dari negosiasi dan pihak lain dirugikan. Pihak yang bernegosiasi dengan gaya keras akan mengusahakan berbagai macam cara, termasuk mengancam akan memutuskan hubungan, agar kesepakatan yang dihasilkan sesuai dengan kemauannya. Dengan kata lain, saat negosiator semacam ini melakukan penawaran, seolah mereka mengatakan: “Take it or leave it!”.

Baca Juga: Berhenti Jadi Bos! Jadilah Pemimpin dengan 5 Cara Ini!

2. Gaya negosiasi lunak yang fleksibel dan selalu mengalah

Sedangkan gaya lunak (soft style) adalah ketika kita cenderung mengalah demi mempertahankan hubungan dengan rekan negosiasi. Dalam gaya negosiasi semacam ini, Anda hampir selalu bilang “ya” terhadap apa yang diminta oleh pihak lain. Tidak masalah mengorbankan kepentingan jangka pendek asalkan Anda bisa mempertahankan hubungan jangka panjang. Yang penting, dia puas dan tidak marah kepada Anda!

unsplash.com

Baguskah gaya negosiasi semacam ini? Tidak juga. Anda terpaksa harus mengorbankan banyak hal. Akibatnya, pada satu titik, Anda terpaksa harus mengakhiri hubungan tersebut. Tentu tidak ada yang mau terus-menerus mengalah hanya untuk mempertahankan hubungan kan?

3. Negosiasi yang seimbang dan memuaskan kedua belah pihak

Lalu gaya negosiasi seperti apa yang ideal? Negosiasi yang ideal adalah yang bisa membuat tujuan Anda tercapai namun hubungan dengan pihak lain tetap bisa dipertahankan. Artinya, Anda menang, pihak lain pun tetap senang. Ini adalah negosiasi yang bisa mengoptimalkan hasil jangka pendek sekaligus mempertimbangkan hubungan jangka panjang. Dua hal inilah yang selama ini seolah tak bisa disatukan. Dalam dua paradigma negosiasi sebelumnya, seolah-olah kita hanya bisa memilih salah satu.

ninja-reflection.com

Mau dapat hasil yang maksimal untuk jangka pendek atau mau mempertahankan hubungan jangka panjang? Padahal kemungkinan ketiga masih ada. Kita bisa mendapatkan keduanya. Untuk itu, perlu diingat bahwa dalam negosiasi kita harus bisa memisahkan antara pribadi orang yang kita ajak negosiasi dengan masalah yang dinegosiasikan. Kita harus bisa memisahkan antara “siapa” dengan “apa”. Setelah kita dapat memisahkan antara masalah dengan orang, selanjutnya kita perlu melakukan perbedaan pendekatan di antara kedua hal tersebut.

4. Negosiasi yang membangun kedekatan antar personal

Ketika kita melakukan diskusi dalam negosiasi, usahakan bangun kedekatan sebaik mungkin. Kalau perlu lakukan pendekatan informal dengan pihak lain di luar meja negosiasi. Dengan begitu akan lebih mudah bagi kita menjaga hubungan dengan pihak tersebut setelah proses negosiasi selesai. Untuk masalah yang dinegosiasikan,kita harus melakukan pendekatan yang bersifat keras dan tidak kompromi (hard style).

pixabay.com

Intinya adalah kita harus berusaha sekuat tenaga untuk mengajak diskusi pihak lain dalam negosiasi demi tercapainya kesepakatan yang kita inginkan. Sedangkan untuk pribadi orang dengan siapa kita bernegosiasi, kita harus menggunakan pendekatan yang lunak (soft style). Ini dilakukan dengan cara membangun hubungan personal demi menjaga relasi.

Baca Juga: 3 Hal Ini Diperlukan Agar Tidak Jadi Pemimpin yang Gaptek

Managemen | 21 / 11 / 2017 | 150