Koleksi artikel SEMEN GRESIK Business Care Center

Cara Jualan yang WOW itu Kaya Gini...

Hampir setiap tahun, Gallup mengadakan survey terhadap penduduk Amerika. Survey tersebut bertujuan untuk mengetahui profesi apa yang paling dipercaya oleh konsumen di sana. Tiga profesi dengan nilai tertinggi adalah perawat, dokter dan apoteker.

 

Coba tebak apa tiga yang terbawah? Ada anggota kongres, pelobi politik dan salesman!

Berita burukkah itu bagi mereka yang berprofesi sebagai tenaga penjualan? Tergantung. Kita bisa melihat hasil survei ini dari dua sisi

 

Tantangan atau Peluang?

 

Kenapa tantangan?

Ya, karena mungkin memang masih ada pelaku bisnis, baik di dunia maupun Indonesia, yang cenderung menghalalkan segala cara. Oknum semacam inilah yang menjadikan munculnya persepsi yang keliru tentang pemasaran. Pemasaran pun akhirnya disalahartikan sebagai ilmu untuk memengaruhi orang yang sebenarnya tidak butuh jadi merasa butuh. Tidak perlu jadi merasa perlu.

 

Jadi inilah tantangan kita bersama: bagaimana agar para pelaku bisnis, termasuk salesman, benar-benar bisa mempraktekkan cara-cara pemasaran dan jualan yang baik dan benar. Dengan cara inilah kepercayaan masyarakat terhadap para pemasar akan didapatkan.

 

Lalu, kenapa peluang? 

Katakanlah survey di Amerika tersebut bisa mewakili persepsi masyarakat di belahan dunia lainnya. Maka survey Gallop tadi secara implisit mengungkapkan sentimen negatif masyarakat terhadap profesi pemasar dan penjual. Hal tersebut menjadikan ekspektasi konsumen terhadap integritas (kejujuran) penjual tidak terlalu tinggi.

 

"Ah, namanya juga orang bisnis, pasti yang dipikirkan hanya keuntungan"

"Biasalah kalau obral janji, namanya juga jualan".

 

Itulah barangkali komentar-komentar sinis sebagian masyarakat terhadap profesi penjual. Lalu bagaimana kalau ada salesman yang jujur dan tidak pernah berbohong? Bagaimana pula kalau ada salesman yang selalu menepati janji yang diucapkan? Bagaimana kalau ada salesman yang bisa dipercaya, perbuatannya sejalan dengan kata-katanya?

 

Itu baru WOW! "Wah.. ndak nyangka, masih ada salesman yang jujur ya", demikian barangkali decak kagum konsumen kita.  

 

Saat Jagoan Sales Berbelanja

 

Cerita ini dikisahkan oleh Zig Ziglar, penulis beberapa buku best seller tentang penjualan. Ziglar suatu saat ingin membeli sebuah sofa dari kulit untuk kantor barunya. Begitu dia sampai ke toko furnitute, seorang penjaga toko dengan ramah mendekatinya. Petugas itu lalu mengantarkan Ziglar ke bagian toko yang khusus menjual berbagai jenis sofa.

 

Saat Ziglar melihat sebuah sofa kulit yang disukainya, hal pertama yang ia tanyakan adalah harganya. Jawaban sang penjaga toko cukup mengagetkan, karena ternyata harganya jauh lebih murah dari yang Ziglar bayangkan. Hanya setengah dari perkiraannya!

 

Saat Ziglar menyatakan kekagetannya tersebut, si penjaga toko langsung menambahkan bahwa ini memang benar-benar harga yang fantastis. “Karena itulah kami bisa menjual banyak sofa jenis ini”, katanya lagi. Ziglar pun mencoba untuk duduk dan merebahkan diri di sofa tersebut. Rasanya benar-benar nyaman. Dia lalu berdiri dan mengelilingi sofa tersebut. Akhirnya bulat keputusan Ziglar untuk membeli sofa tersebut.

 

Selanjutnya Ziglar mengatakan kepada si penjaga toko bahwa dia juga membutuhkan sebuah meja yang pas untuk ditempatkan di depan sofa tersebut. Maka mereka pun berjalan beriringan menuju bagian toko yang memajang berbagai jenis meja.

 

Di perjalanan Ziglar melihat sebuah sofa yang benar-benar mirip dengan sofa yang akan dibelinya tadi. Sekilas dia merasa yang ini sedikit lebih bagus dari sofa sebelumnya. Maka dia pun menghampiri sofa tersebut dan duduk di atasnya. Rasanya benar-benar mirip dengan yang sebelumnya.

 

Iseng-iseng dia tanyakan harganya. Mengejutkan! Harganya hampir dua kali sofa yang pertama. Saat dia tanyakan alasannya, si penjaga toko baru menjelaskan bahwa sofa yang ini seluruhnya terbuat dari kulit. Lho?

 

“Kenapa kamu tidak mengatakan dari awal kalau sofa pertama tadi tidak seluruhnya terbuat dari kulit asli?”, tanya Ziglar lagi. “Saya memang sudah berniat untuk mengatakannya tadi, cuma belum sempat saja. Lagipula saya pasti akan menjelaskannya sebelum Anda pergi dari toko ini. Saya bukan tipe orang yang suka menipu pelanggan kok”, elak si penjaga toko.

 

Jujur itu Mahal, Tapi Bohong Lebih Mahal

 

Nah, menurut Anda, kira-kira Ziglar jadi membeli sofa di toko tersebut atau pergi tanpa membawa apa-apa? Jika Anda memilih jawaban yang kedua, Anda benar seratus persen! Tak hanya itu, Ziglar tak pernah lagi menginjakkan kaki di toko itu untuk seterusnya!

 

Apa pelajaran dari kisah di atas? Kejujuran itu mahal harganya. Salesman yang jujur akan mendapatkan dua jempol dari konsumen. WOW!

 

Namun kebohongan ternyata lebih mahal lagi harganya. Apa maksudnya? Sekali konsumen merasa dibohongi, seterusnya mungkin mereka tak akan lagi percaya. Kebohongan "kecil" mungkin sudah bisa membuat konsumen memberikan dua ibu jarinya, tentu dengan posisi terbalik. BOO!

29 / 11 / 2016
Oleh: Redaksi
tagline