Jangan Remehkan, Konsumen Melakukan Hal Ini Gara-gara Teknologi!

Perilaku konsumen sekarang makin berubah!

 

Oleh: Redaksi

Lebih dari 20 tahun yang lalu, Charles Handy dalam The Age of Paradox menyatakan bahwa banyak kejadian di dunia ini, termasuk perkembangan teknologi, adalah paradoks. Itulah fakta yang dihadapi para pebisnis hari ini. Bagi para pelaku bisnis, untuk bisa memenangkan persaingan di era baru ini, tiga paradoks berikut ini perlu dipahami dan dikelola secara tepat.

 

1. Online vs offline

Teknologi internet memang memberikan kemudahan dan efisiensi yang tinggi. Interaksi antara perusahaan dan pelanggan bisa dilakukan kapan pun. Inilah yang menjadikan perusahaan di Asia berbondong-bondong mengembangkan website resmi atau pun menggunakan social media untuk menjalin hubungan dengan pelanggannya.

indiatimes.com

Namun dunia online tetap memiliki keterbatasan yang menjadikan pendekatan konvensional secara offlinetidak bisa digantikan. Karakter sebagian masyarakat kita yang belum sepenuhnya familiar dengan teknologi digital juga membutuhkan perhatian khusus dari perusahaan.

Sebagai contoh, perusahaan-perusahaan e-commerce mulai menyadari pentingnya integrasi antara pengalaman online dan offline. Zalora, toko fashion online dari Singapura, menawarkan beragam metode pembayaran bagi pelangganSelain membeli lewat website-nya, pelanggan Zalora sekarang juga bisa mengambil barang dan melakukan pembayaran secara offline di toko-toko yang telah ditentukan. Zalora yang sejatinya adalah toko di dunia maya ternyata mulai “turun” ke “dunia nyata”.

Baca Juga: Dari Nol Hingga Sukses, Ini Kisah Pendiri Blue Bird!

2. Substance vs Style

Perkembangan internet juga telah menciptakan pola konsumsi informasi yang baru. Jika di media cetak pembaca terbiasa dengan fitur berita yang dalam dan detail, maka sekarang pembaca di situs berita lebih nyaman dengan tulisan-tulisan yang pendek.

www.oxford-group.com

Layar ponsel yang relatif lebih sempit menjadikan konsumsi informasi akan lebih nyaman dengan konten yang tidak terlalu banyak. Faktor visual –gambar, foto dan ilustrasi– menjadi daya tarik tambahan yang digunakan oleh penyedia konten untuk menarik sebanyak mungkin pengunjung.

Namun tentu saja perusahaan tidak bisa hanya mengandalkan aspek style (visualisasi, audio, desain, dsb). Substansi dari konten yang mereka produksi secara digital juga harus berbobot. Di sinilah para penyedia konten dituntut unttuk bisa mengelola keduanya secara imbang: bagaimana membuat konten yang singkat, menarik, namun tetap tidak kehilangan substansi intinya.

3. Machine-to-Machine (M2M) vs Human-to-Human (H2H)

Digitalization telah menjadikan “interaksi” bisa terjadi di antara berbagai produk-produk teknologi. Data yang ada di handset kita bisa ditransfer ke produk-produk teknologi lainnya dalam bentuk instruksi yang menghasilkan aksi tertentu.  Inilah yang dikenal dengan istilah Machine-to-Machince (M2M).

ecampusnews.com

Salah satu contohnya adalah konsep smart home, di mana handset sang pemilik rumah akan terkoneksi dengan semua peralatan elektronik yang ada di rumahnya. Lewat telepon genggamnya pemilik rumah bisa memantau keamanan rumah lewat CCTV yang terpasang, mematikan lampu, mengecek isi kulkas, dan sebagainya.

Namun teknologi tidak lalu menjadikan manusia menjadi mesin tanpa emosi. Sebaliknya, teknologi digital, terutama social media, telah menjadikan pelanggan menjadi semakin emosional. Untuk itu, sentuhan interaksi yang lebih human-to-human (H2H) tetap tidak boleh dilupakan.

Baca Juga: Bisnis Sepi? Ternyata, Trik Praktis Ini Bikin Jualan Laris!

Trends | 11 / 11 / 2017 | 78