Keuntungan Jadi Pemimpin Murah Hati, Karyawan Senang Tanpa Naik Gaji

Kebahagiaan seringkali kita temukan saat berhasil memberikan kebahagiaan kepada orang lain

 

Oleh: Redaksi

Ternyata sikap ini juga berkorelasi dengan kepemimpinan. Sikap murah hati bisa menjadi inspirasi bagi orang-orang di sekitar kita, sehingga menggerakkan mereka untuk mengikuti apa yang kita lakukan. Salah satu kisah kepemimpinan semacam ini bisa kita temukan di Mayo Clinic. Nama Mayo Clinic tentu tidak asing lagi bagi para penyedia layanan medis atau rumah sakit di dunia.

Kepedulian tulus yang tidak dipengaruhi oleh jabatan

Institusi ini secara konsisten selalu mendapat pengakuan sebagai salah satu rumah sakit terbaik di dunia. Majalah US News and World Report meletakkan Mayo Clinic pada peringkat nomor 2 dalam daftar “Rumah Sakit Terbaik di Amerika”. Salah satu keistimewaan rumah sakit ini adalah kentalnya budaya kepedulian (care) di dalamnya, terutama kepada pasien dan pengunjung di sana. Budaya tersebut tidak bisa dilepaskan dari keteladanan pendirinya, Dr. William J. Mayo. Beliau memang dikenal sangat murah hati.

pixabay.com

Suatu hari pada tahun 1936, Dr. William Mayo melakukan kunjungan ke rumah sakit. Saat itu sebenarnya dia sudah pensiun dari jabatannya, namun sesekali dia masih mengunjungi institusi yang didirikannya itu. Pada saat kunjungan itu, dia minta diantar ke bangsal di mana ada pasien yang menderita sakit berat namun berasal dari keluarga miskin. Selesai kunjungan, dia menyerahkan uang $ 400 kepada petugas yang menemaninya. Dia berpesan agar dengan uang itu pasien yang tadi dikunjunginya dipindahkan ke kelas yang lebih baik. Hal semacam ini tidak hanya sekali dilakukan oleh Dr. William Mayo.

Baca Juga: Tirulah Presentasi ala Jokowi, Bikin Investor Jatuh Hati

Sikap kepedulian yang menginspirasi banyak orang

Sikap murah hati Dr. William menjadi inspirasi bagi dokter, perawat dan karyawan-karyawan Mayo Clinic. Inspirasi tersebut bahkan membekas hingga sekarang, beberapa puluh tahun kemudian. Inspirasi semacam ini adalah salah satu cara untuk menggerakkan orang lain agar mengikuti kita secara sukarela.

pixabay.com

Orang-orang mengikuti kita bukan sekadar karena gelar dan jabatan yang melekat di kartu nama kita, namun karena mereka melihat sesuatu yang layak untuk diteladani dalam perilaku kita. Sikap murah hati adalah salah satu sikap yang bisa menjadi sumber inspirasi bagi orang-orang di sekitar kita.

Membentuk sikap peduli yang tulus dalam kehidupan

Tips sederhana berikut barangkali bisa dicoba: luangkanlah waktu untuk menengok ke bawah. Ini berarti menyempatkan diri untuk mengamati dan mencermati kehidupan orang-orang di bawah kita. Dengan membiasakan diri melakukan perenungan semacam ini, maka egoisme yang kita miliki akan semakin tergerus dengan keinginan untuk berbagi.

pixabay.com

Jika dalam film-film persilatan seorang guru sering menasehati muridnya agar tidak menjadi congkak dengan kata-kata “di atas langit masih ada langit”, maka dalam dunia kepemimpinan berlaku yang sebaliknya: “di bawah bumi masih ada tanah”. Masih ada orang-orang yang membutuhkan uluran tangan dan uluran pikiran kita.

Melakukan perenungan untuk membentuk rasa empati

“Menengok ke bawah” memberikan kesempatan bagi kita untuk melihat sisi pahit orang lain sehingga kita bisa melihat sisi indah dari apa yang telah kita miliki. Namun “menengok ke bawah” hanya akan dianggap sebagai sebuah aktivitas yang sekadar mengeksploitasi kesengsaraan orang lain demi mencari kepuasan batin, jika tidak mendatangkan efek sosial lanjutan.

unsplash.com

Perenungan hendaknya diikuti dengan tindakan. Sebab, tindakan nyata ini yang membedakan kepedulian dengan sebatas rasa ingin tahu (kepo). Lewat sikap murah hati yang tercermin di dalam tindakan Anda, semoga orang-orang di sekitar Anda akan terinspirasi untuk melakukan hal yang sama.

Baca Juga: Dari Nol Hingga Sukses, Begini Kisah Pendiri Dodol Picnic!

Leadership Service | 24 / 11 / 2017 | 98