Sebelum Berbisnis, Ketahui Kemauan Konsumen dengan 3 Pertanyaan Ini

Tidak ada hukum mundur bagi teknologi!

 

Oleh: Redaksi

Ketika teknologi dikombinasikan dengan bisnis, ini akan menjadi sebuah inovasi maupun terobosan yang ciamik. Bukan hanya menguntungkan, kombinasi teknologi dan bisnis, sangat membantu konsumen. Hal ini karena terdapat area yang belum dieksplorasi oleh bisnis konvensional yang mendahului. Seperti apa kombinasi teknologi dalam bisnis yang modern? Simak contohnya berikut:

1. Apakah kebutuhan sehari-hari bisa terjawab dengan teknologi?

dealstreetasia.com

Jawabannya, bisa. Kraft misalnya, belakangan mengembangkan teknologi pemindai wajah untuk membantu orang yang tidak bisa memutuskan menu makan malamnya. Teknologi pemindai ini merupakan hasil kerjasama Kraft dengan Intel. Teknologi ini dikenal dengan Meal Planning Solution. Bagaimana teknologi ini bisa dipercaya? Seperti dikutip dari situs web TIME, sekitar 86 persen hasil pemindai ini akurat. Ia bisa membedakan menu yang disukai pria maupun perempuan, orang tua maupun anak-anak. Namun, satu problem besanya, alat pemindai ini tidak bisa menentukan menu yang membuat alergi seseorang. Sementara, Kraft sedang gencar menjalin kemitraan dengan supermarket untuk mempromosikan ini.

Baca Juga: Tak Manjakan Konsumen, Bisnis Kekinian Justru Melakukan 3 Hal Ini

2. Apakah berhenti sampai tahap "cukup membantu" saja?

techinasia.com

Selain Kraft, sebenarnya, banyak merek yang menggunakan teknologi untuk mengetahui apa yang menjadi kebutuhan para pelanggannya. Dari soal cek gula darah, tingkat kolesterol, sampai mempercantik wajah.Tapi, pertanyaan utama, mampukah teknologi benar-benar mengangkat apa yang menjadi anxiety dan desire dari para pelanggan?

3. Apakah yang bisa mendorong kombinasi teknologi dan bisnis lebih jauh?

oxford-group.com

Teknologi bukan segalanya. Teknologi menjadi sebuah fasilitas pendukung, adalah benar. Namun, anxiety dan desire manusia itu tidak gampang diungkap. Manusia itu dinamis dan mempunyai kesadaran diskursif (refleksi) yang tidak bisa diungkap oleh teknologi yang sifatnya positivistik. Sementara, manusia bukan objek kaku yang bisa diteliti dengan hukum matematika maupun formula logis ala mesin.

Sebab itu, pebisnis harus kreatif untuk mencari tahu bagaimana caranya menemukan apa yang menjadi anxiety dan desire dari para pelanggannya. Teknologi dalam kasus Kraft tadi, bagi saya, hanyalah sekadar gimmick saja pada pelanggan. Teknologi memang canggih, tapi tidak bisa mengungkap misteri manusia yang super canggih dan “misterius” ini.

Baca Juga: 5 Keunikan ala Transportasi Online Ini Bisa Ditiru, Bisnis Dijamin Laris!

Trends | 02 / 12 / 2017 | 95